Tahukah anda apa itu seorang intelijen? Yap, mereka yang bekerja sebagai seorang intelijen adalah orang yang umumnya bekerja sebagai pengumpul informasi. Tentu saja informasi yang dimaksud di sini adalah informasi yang bersifat penting dan rahasia.

Oleh karena itu, mereka haruslah orang yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Menjadi intelijen bukanlah pekerjaan yang mudah, melainkan sangat dan sangat sulit bahkan terkadang terkesan sangat berbahaya.

Hal tersebut dikarenakan anda harus mengumpulkan informasi secara diam-diam, maka tentu resiko yang akan anda tanggung jika ketahuan juga pastinya besar dan sewaktu-waktu nyawa anda mungkin bisa menjadi taruhannya.

Data mentah hasil hipotesis analis ini bisa dilihat dari laporan lapangan, pernyataan pemerintah, hingga item di media lokal. Pekerjaan analisis seperti mencari data, mensintesiskannya ke dalam sebuah laporan adalah bidang yang paling tepat jika diberikan kepada kecerdasan buatan (AI). Teknologi ini diyakini pasti bisa membantu mempermudah pekerjaan intelijen.

Primer Gunakan Sistem AI

Melihat kemungkinan tersebut, sebuah perusahaan baru yang bernama “Primer” mencoba untuk mempertimbangkan jasa dari kecerdasan buatan tersebut.

Baru-baru ini didapat kabar bahwa Primer telah mengembangkan sistem AI, yang pada dasarnya dimaksudkan untuk menambah pekerjaan seorang analis intelijen di sebuah agen mata-mata. Pengintaian bukanlah satu-satunya bidang yang bisa mereka kerjakan.

Rekan mereka termasuk Walmart dan Sovereign Wealth Fund ( dana kekayaan kedaulatan) di Singapura juga menggunakannya. Akan tetapi, mungkin bidang intelejensi ini adalah yang paling menarik.

Misi analis intelijen adalah “memahami dunia di sekitar anda,” kata Sean Gourley, selaku pendiri dan sekaligus CEO dari Primer. Itu berarti “memonitori umpan data yang anda lalui” dan mencoba untuk mengambil kejadian penting di wilayah yang anda sudah ketahui dengan baik, atau bisa juga belajar dengan cepat tentang sebuah organisasi baru, atau bagian dunia terbaruj dan lain sebagainya. 

Primer melakukan keduanya, baik itu pembacaan informasi tersebut, maupun penulisan laporan dan mengotomatisasi proses menggunakan AI. Dengan kata lain, jenis pekerjaan intensif yang mungkin akan dilakukan oleh seorang agen ke seorang peneliti junior, seperti misalnya menyuruh “baca semua ini, tulislah sebuah ringkasan dan taruh di mejaku! Primer akan melakukannya.

Kami ingin bisa mengambil proses itu dan menulis draft pertama,” tambahnya, “sehingga para analis, ketika mereka duduk, bukannya dihadapkan pada aliran ratusan dokumen, dihadapkan pada draft undang-undang sebuah laporan yang akhirnya bisa mereka edit sendiri.

“Singkatnya, dengan menggunakan teknologi ini, AI bisa menciptakan versi awal sebuah laporan dan tidak seperti manusia, tenologi ini tidak akan merasa lelah dan tidak akan melewatkan setiap rincian yang telah diprogram untuk ditangkap.

In-Q-Tel, yang merupakan sebuah organisasi yang bekerja sebagai jembatan antara badan intelijen Amerika dan perusahaan pemula, tampaknya juga telah berinvestasi di Primer untuk hal ini.

Keunggulan AI Dalam Menangani Informasi

Anda harus tahu bahwa sistem kecerdasan buatan ini sangat unggul dalam menangani sejumlah besar informasi. Misalnya saja algoritma pembelajaran mesin yang secara efisien sangat membantu dalam membuat tugas seperti misalnya yang pada terjemahan bahasa di Facebook.

Tanpa adanya teknologi tersebut, tentu saja anda tidak akan bisa menerjemahkan setiap bahasa yang diposting di Facebook ataupun komentar yang ada di sana dari satu bahasa ke bahasa yang lainnya.

Itulas sebabnya mengapa akhirnya peneliti melatih algoritma dan jaringan saraf sistem kecerdasan buatan tersebut dengan cara memberikan mereka data dan membiarkan mereka belajar dari data tersebut.

Sebenarnya Primer bukanlah satu-satunya perusahaan di luar sana yang menggunakan AI untuk membantu mereka untuk melakukan berbagai pekerjaan seperti memahami data, yang dalam kasus mereka, juga mencakup informasi yang tersedia untuk umum, seperti berita keuangan dan laporan media.

Veritone, yang juga perusahaan lain yang berada di tempat yang sama, bahkan mengkhususkan diri dalam tugas menangani data tidak terstruktur seperti file audio dan video.

Mereka menawarkan lebih dari 100 mesin AI yang berbeda yang berfokus pada tugas yang berbeda pula, seperti misalnya transkripsi audio, menganalisis sentimen yang diungkapkan pembicara dalam transkripsi, pengenalan logo, atau mendeteksi wajah dalam video.

Seorang klien, yaitu CNBC adalah salah satu dari mereka. CNBC yang merupakan saluran TV yang berada di bawah naungan Saluran Konsumen Berita dan Bisnis ini juga mungkin menyewa sistem mereka, misalnya untuk menonton sekumpulan video dan memilih penampilan logo produk tertentu, atau mendengarkan kecenderungan politik dari apa yang sedang dikatakan.

Gagasan tentang penggunaan AI dalam dunia intelejen yang  memainkan peran dalam mensintesis laporan intelijen dan menulis laporan ini kemungkinan akan cukup untuk memberi getaran pada sebagian besar orang, seperti Elon Musk (yang suka memperingatkan masyarakat tentang “keamanan AI“).

Namun Gourley mengatakan bahwa metodologinya akan transparan bagi mereka yang menggunakannya. “Salah satu prinsip mendasar dari apa yang kami bangun dan bagaimana kami membangun sistem AI, adalah bahwa hal itu selalu bisa ditafsirkan,” katanya.

Dia juga mengatakan bahwa kecerdasan buatan ini akan “selalu terhubung kembali ke sumber aslinya dan selalu mengomunikasikan kepada pengguna, baik data apa yang digunakan sebagai masukan untuk membuat keputusan dan juga bagaimana caranya menggunakannya.